SAY NO TO JIMMY NAPITUPULU (Si BLEKOQ)

PALEMBANG, 13 April 2009

Semalam gue nonton siaran ulang lanjutan kompetisi COPA INDONESIA (234) leg ke-2 yang mempertemukan Laskar Wong Kito berstatus away dengan Maung Bandung Persib berstatus Home.
To the point aja, intinya Sriwijaya FC melaju kebabak delapan besar COPA INDONESIA. Tetapi sebelum kemenangan ini SFC dengan susah payah dan sakit-sakitan. Yang paling menyakitkan SFC mendapat 5 kartu kuning dan 1 kartu merah oleh Jimmy “Si Blekoq” Napitupulu. Kepemimpinan Wasit yang bersertifikat FIFA ini terlihat berat sebelah, atau timpang sebelah.
Banyak diving yang dilakukan pemain Persib berbuah kartu kuning yang notabene “ATM”nya wasit-wasit. Toh Si Blekoq ngantongin uang terus euy. Yang paling gawat ketika pemain Persib Siswanto diving dengan menjatuhkan diri sendiri (dikiranya spring bed kale) dikotak penalty di belakang Ambrizal, seluruh Indonesia yang menyaksikan tahu kalau itu trik diving karena tertangkap kamera TV One.
Pemain Persib Siswanto itu udah ngga’ kuat nafas saat lari jadi jatuhkan diri aja. Tapi… Si Blekoq menunjuk titik penalty (gawat ngga’ tuh). Pepatah mengatakan orang yang didzholimi pasti berbuah baik, dan itu terbukti. El Locco Gonzales GAGAL mengeksekusi bola haram tersebut yang artinya tidak berbuah gol. Itu juga tidak terlepas kepiawaian Ferry Rotinsulu yang pada pertandingan semalam menjadi Man Of The Match.
Untung Cek Rahmad tidak mau macam-macam dengan kepemimpinan wasit Si Blekoq ini. Dimedia Rahmad mengungkapkan kekecewaannya atas kepemimpinan Jimmy “Si Blekoq “ Napitupulu. Dan juga bahagia SFC dengan terdzolimi masih bias menahan imbang Persib dikandang mereka.
Terlihat juga Bobotoh entah asli atau ngga’ membakar-bakar sampah distadion. Sangat disayangkan sekali ada peristiwa ini.
Inilah cerminan persepakbolaan Indonesia, memang susah menjadi lebih baik. Wasitnya yang bertugas menjadi penghakim lapangan kurang latihan… jadi gitu deh, kayak Si Blekoq…
Solusi, Wasit harus lebih jelas lagi dan kalau bisa BLI undang wasit dari luar aja deh, ngga’ usah dari yang local, karena kita tahu sendiri kualitasnya. Biar yang local banyak belajar dulu aja deh…. Okeh…